

Salah satu ciri khas pesantren tradisional adalah pembelajaran kitab kuning. Kitab ini berisi ajaran-ajaran Islam klasik yang ditulis oleh ulama terdahulu dalam bahasa Arab. Melalui kitab kuning, santri diajarkan untuk memahami dasar hukum Islam, akhlak, dan ilmu keislaman secara mendalam.
Metode pengajaran kitab kuning biasanya dilakukan dengan sistem bandongan atau sorogan. Dalam bandongan, kyai membaca dan menjelaskan isi kitab di hadapan banyak santri, sedangkan dalam sorogan, santri membaca kitab di hadapan kyai untuk dikoreksi. Metode ini menumbuhkan ketelitian dan kedisiplinan belajar.
Mempelajari kitab kuning juga melatih kemampuan bahasa Arab santri. Mereka tidak hanya membaca, tetapi juga menafsirkan dan memahami konteks setiap teks. Dengan demikian, kemampuan analisis dan logika santri berkembang seiring dengan peningkatan pemahaman agama.
Selain itu, pembelajaran kitab kuning menumbuhkan rasa cinta terhadap ilmu dan tradisi ulama. Santri dididik untuk menghargai warisan intelektual Islam yang menjadi dasar keilmuan umat.
Kitab kuning tetap menjadi bagian penting dalam pendidikan pesantren, meskipun kini mulai diintegrasikan dengan sistem pembelajaran modern agar lebih relevan dengan perkembangan zaman.